Pembalut merupakan kebutuhan pokok bagi seorang wanita karena setiap bulannya, wanita akan mencari barang ini. Ya, barang ini merupakan daftar barang yang harus ada saat masa haid wanita tiba.
Penggunaan pembalut yang merupakan barang vital itu di Indonesia mencapai 1,4 miliar pertahun. Daei sekian wanita yang mengenakan pembalut, sekitar 52 juta diantarabya berpotensi terkena kanker rahim. Mengapa ini bisa terjadi?
Beredar kabar bahwa ditemukan kandungan klorin pada sebagian pembalut yang beredar di indonesia. Parahnya, pembalut tersebutbtergolong dalam pembalut produksi skala besar dimana banyak wanita yang menggunakannya.
Hal tersebut merupakan pernyataan dari peneliti YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) yang menemukan adanya kandungan zat klorin (pemutih) dari sebagian besar merk pembalut dan pantyliner yang beredar di Indonesia.
YLKI menambahkan bahwa zat klorin sangat berbahaya jika terus-menerus bersentuhan dengan tubuh manusia. Apalagi pembalut yang dipasang sangat dekat dengan sistem reproduksi perempuan. Maka dari itu, salah satu momok besar yang sangan dekat adalah penyakit kangker rahim yang aaat ini memang telah banyak diderita oleh wanita indonesia.
Dari penelitian yang dilakukan oleh pihak YLKI, ditemukan beberapa pembalut yang mengandung klorin, diantaranya pembalut merk Charm dengan kandungan klorin sebesar 54,73 ppm (part per milion). Lalu merk Nina Anion dengan 39,2 ppm, merk My Lady dengan 24,44 ppm dan VClass Ultra mencapai 17,44 ppm. Produk Kotex dengan kandungan klorin mencapai 8,23 ppm dan Hers Protex dengan 7,93 ppm. Kemudian produk Laurier mencapai 7,77 ppm, produk Softex dengan 7,3 ppm, Spftness standar jumbo pack juga mengandung klorin sebesar 6,05 ppm.